Syukur yang Sesungguhnya

Republika
Oleh A Fauziyah

“Ya Allah Jadikanlah aku ini termasuk golongan hamba-Mu yang sedikit.”

Yang dimaksud dengan golongan sedikit adalah hamba-hamba yang bersyukur (Saba’: 13). Bukankah sudah banyak di antara kita telah mengucapkan kata “alhamdulillah” dan bukankah sudah banyak di antara kita yang telah mengadakan acara “tasyakuran” setelah mendapatkan sesuatu yang beharga seperti naik pangkat, lulus ujian, kelahiran anak, dan lain-lain? Hal demikian memang sudah memasuki pintu syukur, akan tetapi belum sepenuhnya memasuki kawasan syukur.

Syukur berarti rasa terima kasih atas nikmat yang telah diberikan, sembari menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah SWT. Syukur tersusun dari ilmu, hal, dan amal perbuatan. Ilmu berarti mengetahui nikmat yang diberikan dan pemberi nikmat. Hal berarti gembira atas nikmat yang telah diberikan.

Sedangkan amal perbuatan adalah melaksanakan apa yang menjadi tujuan pemberi nikmat.

Banyak di antara kita bersyukur hanya dalam ilmu dan hal saja, belum memasuki penggunaan nikmat itu untuk mencari keridhaan-Nya. Seseorang bertanya kepada Abu Hazim, “Bagaimanakah syukur mata?” Ia menjawab, “Jika mendengar yang baik diterima, dan sebaliknya.” “Bagaimanakah syukur kedua tangan?” Ia menjawab, “Jika orang meninggal baik dan perlu ditiru, maka langkahkanlah kaki Anda.”

Penggunaan nikmat untuk meningkatkan kualitas ibadah masih sedikit. Orang yang bersyukur hanya pada bibir saja bagaikan mempunyai sehelai selendang panjang dan hanya memegang ujungnya tanpa mengenakannya.

Maqam syukur lebih tinggi daripada maqam takwa karena takwa merupakan ambang kedatangan syukur. “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali Imran: 123). Dan syukur yang diikuti dengan keimanan akan terbebas dari azab Allah. “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?” (Annisaa`: 147).

Sulit melaksanakan syukur yang sesungguhnya sehingga Nabi memberikan doa kepada Muaz bin Jabal untuk selalu dibawa setiap setelah shalat “Allahumma ainni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.” (Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang selalu ingat akan Engkau, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah kepada-Mu.”

Semoga kita termasuk golongan orang-orang bersyukur. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: