Pencinta Tuhan

Republika
Oleh Sabrur R Soenardi

Kang Jalal, dosen Fikom Unpad Bandung, pernah bercerita tentang sebuah kisah sufistik yang pernah menggugah rasa haru Amatullah Amstrong, seorang model Australia, sehingga ia kemudian masuk Islam.

Kisah berbentuk puisi itu bercerita tentang seorang ahli ibadah (abid) bernama Abu bin Azhim. Ia seorang Muslim yang getol beribadah. Segala amal ritual, dari yang wajib sampai yang sunnah, tak pernah ia tinggalkan barang sedikit pun.

Suatu malam, Abu bin Azhim baru saja selesai berwudhu untuk tahajud. Tiba-tiba, dilihatnya seseorang bertengger di dinding sumurnya. Ia berbaju putih, penuh cahaya terang pada sekujur tubuhnya, dan tampak membuka-buka sebuah buku.

”Siapakah Anda? Dan apa yang Tuan lakukan di sini?” tanya Abu bin Azhim. ”Aku malaikat. Aku sedang melihat-lihat data para pencinta Tuhan,” katanya.

”Malaikat? Mendata para pencinta Tuhan?! Oh, kalau begitu, adakah namaku tercantum di dalam buku Tuan?” tanya Abu bin Azhim dengan tergesa-gesa. ”Baiklah. Aku akan melihatnya,” sang malaikat mulai membuka-buka bukunya. Abu bin Azhim menunggu dengan harap-harap senang. ”Sayang, Abu. Namamu tidak tercantum dalam bukuku,” kata sang malaikat.

Abu langsung menangis mendengar jawaban itu. ”Kenapa kamu menangis, Abu?” tanya malaikat. ”Rasanya sia-sia saja selama ini aku getol melakukan bermacam ibadah wajib dan sunnah. Nyatanya, aku tidak masuk dalam data Anda, tuan malaikat. Padahal, apa, sih, tujuan seorang hamba rajin beribadah ritual kecuali untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba yang mencintai Tuhan?” Abu bin Azhim mengadu.

”Aku juga tahu semua yang kamu kerjakan selama ini, Abu. Kau begitu getol melakukan ibadah ritual. Segala macam. Yang wajib dan yang sunnah. Tapi sayang, di sekelilingmu ada janda-janda tua, anak-anak yatim, orang-orang fakir dan miskin, tidak sedikit pun rasa pedulimu menghampiri mereka, padahal kau mampu melakukannya. Itulah mengapa, namamu terhalangi untuk dicantumkan di bukuku. Karena, ketahulilah, Abu, Tuhan tidak akan menerima cinta seorang hamba, sebelum sang hamba mencintai sesamanya.”

Indah sekali kisah di atas. Ia seakan mengingatkan kita pada sabda Rasulullah saw, ”Siapa pun di antara kalian tidak bisa dikatakan beriman ketika dirinya bisa tidur dengan perut kenyang, sementara tetangga (saudara)-nya masih ada yang kelaparan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: