Pembelahan Dada Nabi

Republika
Oleh : Abdul Muid

Matahari belum lagi meninggi saat seorang bocah Bani Sa`ad berlari terengah-engah melaporkan kejadian aneh bahwa dua laki-laki berpakaian putih telah menangkap suadara angkat mereka, Muhammad. Mereka membedah perut serta dada dan membalik-balikkannya. Usia Muhammad saat itu belum tiga tahun. Halimah, pengasuh Muhammad, pun bergegas menengok kejadian sebenarnya. Didapatinya Muhammad sedang terbaring lemah.

”Aku didatangi dua laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan, lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka cari,” jelas Muhammad kecil lirih dengan wajah pucat pasi.

Para ahli, baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim, berbeda pendapat tentang kejadian ini. Di antara mereka ada yang menganggap peristiwa ini sangat lemah riwayatnya ditilik dari sudut sanad. Di samping itu sangat tidak masuk akal dan untuk apa Allah membelah perut atau dada Muhammad, padahal ia telah dipersiapkan sejak dulu untuk menjadi Rasul? Alquran pun tidak menyinggung dengan jelas peristiwa itu, kecuali tiga ayat pertama Surah Al-Insyirah: ”Bukankah telah Kami lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban darimu? Yang memberati punggungmu?”

Ayat ini, meski diduga punya kaitan dengan peristiwa itu, tetap tidak menegaskan kejadian sebenarnya.

Terlepas dari pro dan kontra itu, Karen Armstrong dalam bukunya, Muhammad Sang Nabi (2001), menyatakan bahwa kisah ini menyimbolkan kemurnian yang diperlukan untuk menerima suatu pengalaman ketuhanan tanpa menodai pesan sucinya. Kisah ini sering disejajarkan oleh para sejarawan dengan peristiwa Isra dan Mi’raj.

Di sisi lain, kita melihat bahwa di hadapan Muhammad kecil terbentang hamparan tanggung jawab tak bertepi terhadap umat saat ia menjadi Nabi dan Rasul –tanggung jawab yang tidak akan sanggup dipikul oleh sembarang orang. Pembawa risalah ini haruslah orang yang betul-betul terjaga kesuciannya dan kuat jiwanya. Untuk itu, hatinya mestilah bersih dari segala kecenderungan-kecenderungan rendah yang dapat berakibat misi yang diembannya berantakan.

Saat ini kita sulit mencari seseorang yang memiliki jiwa bersih untuk memimpin negeri yang tengah porak-poranda ini. Penyelewengan kekuasaan dan jabatan masih menjadi benda murah dan bisa ditemui di manapun. Himah dari kisah dibelahnya dada Muhammad ini mungkin bisa menjadi cermin bahwa sejak usia dini, calon-calon pemimpin masa depan mesti dibekali kesucian jiwa dan kekuatan mental kalau mereka tak mau gagal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: