Meninggalkan Masjid

Republika
Oleh M Khairul Anwar

“… sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya …” (QS 9: 108).

Sesungguhnya masjid begitu dekat dengan aktivitas umatnya. Seharusnya begitu. Namun, kenyataan yang kita lihat sekarang ini tidak begitu adanya. Masjid yang kita lihat sekarang ini mengalami “kesakralan” luar biasa. Sehingga, saking sakralnya hanya dipergunakan untuk shalat lima waktu saja, atau ramai kalau Ramadhan saja. Kenyataan ini memang kita jumpai hampir di seluruh pelosok negeri. Memprihatinkan memang!

Kesibukan kita membangun bentuk fisik masjid tidak dibarengi dengan kesibukan kita untuk memakmurkannya. Seharusnya kita membuka kembali lembaran emas sejarah kita, betapa di zaman Rasulullah saw masjid mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk peradaban umat.

Fungsi masjid sebenarnya adalah sarana untuk beribadah kepada Allah SWT, dan sarana pendidikan (tarbiyah) yang merupakan modal utama kehidupan dan perubahan. Masjid juga berfungsi sebagai tempat pembinaan umat, pengikat tali persaudaraan (ukhuwwah Islamiyyah), serta sebagai basis perjuangan. Masjid juga dipergunakan sebagai tempat berlatih perang, menyusun strategi perang, dan bahkan sebagai tempat untuk menampung korban perang guna diobati.

Namun, masjid sekarang ini tidak seakrab namanya. Masjid hanya dijadikan sebagai tempat melakukan shalat, tempat musafir berteduh dan menghilangkan lelah, atau tempat bermalam musafir yang kemalaman di tengah perjalanan.
Rusaknya tatanan kehidupan bermasyarakat saat ini adalah disebabkan oleh masyarakat yang semakin jauh dari nilai-nilai yang terpancar dari masjid. Maraknya tindak kriminalitas, pertikaian antarkelompok, kemaksiatan, dan berbagai tindakan amoral lainnya yang menimpa hampir segala level masyarakat terjadi karena masyarakat meninggalkan masjid.

Sudah saatnya umat Islam memikirkan kembali fungsi masjid serta mengoptimalkannya dalam rangka membentuk masyarakat yang damai, cerdas, menyatu dalam persamaan, serta tangguh dalam menghadapi segala zaman. Wallaahu a’lam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: