Mengapa Mereka Dipalingkan?

Republika

Oleh: Abdul Muid Nawawi

Ajaran-ajaran Al-Quran yang turun kepada masyarakat Quraisy Makkah, sebenarnya, bukanlah hal baru bagi mereka. Memang Al-Quran tidak pernah mengklaim diri sebagai ”pengajar” bagi kaum Quraisy, bahkan Al-Quran lebih sering menamakan diri Adz-Dzikr (pengingat) yang berfungsi sebagai stimulan bagi ingatan kolektif bangsa Quraisy akan kedudukan (bukan pada ada tidaknya) Tuhan, sebagaimana dalam surah Al-Hijr: 9.

Kekafiran yang menjangkiti masyarakat pagan pada waktu itu tidaklah pada persoalan pengakuan atas keberadaan Tuhan. Bukankah Al-Quran sendiri menegaskan bahwa kaum Quraisy menyadari adanya Tuhan, melalui ayat berikut ini, ”Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS Az-Zukhruf: 87).

Jadi, pengistilahan kufran yang berarti pengingkaran di dalam Al-Quran tidak semata-mata bermakna penegasan akan keberadaan Allah SWT, namun lebih kepada pembangkangan dan ketidaksyukuran kaum kafir Quraisy terhadap nikmat yang Allah limpahkan kepada mereka. Pesona materi telah membutakan mereka akan kemiskinan masyarakat sekitar.

Bagaimana mereka tidak divonis kafir oleh Al-Quran, sedangkan Kabah yang menjadi pusat penyembahan Tuhan di Jazirah Arabia ada di tengah-tengah mereka dan hampir setiap hari mereka thawaf mengelilinginya, ditambah lagi dengan ritual-ritual lainnya serta nikmat melimpah dari Allah SWT. Namun semua itu tidak membuat mereka menjadikan Tuhan sebagai poros kepasrahan diri. Perhatian mereka malah tersedot ke arah pusaran materialisme yang menonjolkan prinsip-prinsip kepentingan diri sendiri lebih utama dari kepentingan manusia lain.

Adanya tanda-tanda (ayat) kekuasaan Allah telah gagal memahamkan mereka untuk menangkap hakekat kehidupan. ”Untuk itulah Islam datang lewat pembawanya Nabi Muhammad saw dengan menawarkan kepasrahan eksistensial yang diharapkan untuk diberikan oleh setiap Muslim kepada Allah,” kata Karen Armstrong dalam bukunya, Sejarah Tuhan. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: