Lelaki Berhati Teduh

Republika
Oleh Irwan Kelana

Ketika salah seorang putranya yang masih menyusu meninggal dunia, hati Siti Khadijah amat pilu. Kepedihan seorang ibu yang amat menyayangi buah hatinya. Namun, Rasulullah segera menghibur istri tercinta, ”Di surga ada yang akan menyusuinya.” Khadijah berkata, ”Kalau aku tahu begitu, tentu hatiku ini tidak akan terlalu susah dan resah.” Maka sambung Rasulullah lagi, ”Kalau engkau mau, aku akan perdengarkan suaranya di surga.” Cepat-cepat sang istri menjawab, ”Tidak, tidak perlu. Aku percaya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Begitulah cara Rasulullah menenangkan dan membesarkan hati istrinya yang tengah berduka. Ketika Khadijah sakit hingga meninggal dunia, Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Khadijah menghembuskan napas terakhirnya di hadapan orang yang paling dikasihinya.

Keteduhan hati Rasulullah juga terpancar terhadap istri-istrinya yang lain, yang beliau nikahi tiga tahun setelah Khadijah wafat. Salah satu istri beliau, Siti Aisyah –satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah saat masih gadis– banyak menceritakan kelembutan dan romantisme Rasulullah. ”Rasulullah saw pernah mengajakku lomba lari. Aku berhasil mengalahkannya. Kemudian setelah badanku agak gemuk, beliau mengajakku bertanding lari lagi. Kali ini beliau yang menang, lalu sabdanya, ‘Ya, Aisyah, kedudukan kita sama, satu-satu dengan yang dulu’.”

Wanita yang sering dipanggil oleh Rasulullah dengan ungkapan sayang, ”Ya Humaira” (wahai wanita berkulit putih kemerah-merahan) dan ”Ya Aisy” itu bercerita pula, ”Rasulullah saw pernah berkata kepadaku, ‘Aku tahu kapan kau senang dan kapan kau marah padaku.’ Aku bertanya, Dari mana engkau mengetahuinya? Beliau menjawab, ‘Kalau engkau sedang senang padaku, engkau akan berkata dalam sumpahmu, La wa Rabbi Muhammad (tidak demi Rabb (Tuhan)-nya Muhammad). Tapi, jika kau sedang marah kepadaku, engkau akan bersumpah, La wa Rabbi Ibrahim (tidak demi Rabbnya Ibrahim)’. Dengan jujur aku menjawab, Demi Allah, memang demikian, ya, Rasulullah! Aku tidak meninggalkan kecuali namamu saja.”

Sebagai manusia biasa, mungkin tidak mudah bagi kita mengikuti kesalehan ritual nabi. Sebagai seorang manusia pilihan, rasulullah tidak ada tandingannya dalam beribadah dan berdakwah. Tapi, bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada istri, rasanya siapa pun bisa melakukannya, bukan? Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: