Cincin Nashruddin

Republika
Oleh: Sabrur R Soenardi

Suatu malam, Nashruddin Hoja mencari cincinnya yang hilang di pinggir jalan. Seorang tetangganya lewat, lalu menawarkan jasa. ”Boleh saya bantu mencari?”
”Dengan senang hati. Ayo kita cari bersama-sama,” kata Nashruddin.
Setelah sekian lama dicari, cincin itu tak juga ditemukan. ”Mullah, sudah lama kita mencari, tetapi cincin Anda tidak juga tertemukan. Memang tadi hilangnya di mana?”
Dengan tenang Nashruddin menjawab, ”Di dalam gudang rumah.”

Tentu saja sang tetangga terkejut, lalu marah-marah. ”Oh, ternyata dari tadi saya cuma mengurusi orang goblok! Anda ternyata goblok sekali, Mullah. Kalau cincin hilang di dalam gudang, mengapa kita mencarinya di sini?” kata si tetangga sebal. Namun, Nashruddin balik marah. ”Kamu yang goblok! Di dalam gudang gelap, tidak ada lampu. Di sini ‘kan terang. Mana mungkin mencari sesuatu di tempat gelap?!”

Cerita di atas adalah analogi yang tepat tentang orang-orang yang menyukai ”terang” padahal membawa keburukan, sementara dia membenci ”gelap” padahal membawa kebaikan. Orang-orang ini –tepatnya 75 persen dari 600 responden yang dijaring jajak pendapat PIB pimpinan Dr Sjahrir beberapa waktu lalu– merindukan zaman Orde Baru kembali lagi pada mereka karena di zaman itu stabilitas nasional relatif terjaga. Mereka tidak senang dengan era reformasi, di mana anarkisme merajalela, disintegrasi bangsa mengancam, perang saudara pecah, dan para pemimpin tidak pernah akur.

Toh, tidak semua orang ingin bermental picik seperti yang diparodikan oleh Nashruddin itu.
Orang-orang ini berpendapat tak mengapa zaman Orde Baru diibaratkan suatu tempat yang penuh lampu terang, sedangkan zaman reformasi ibarat tempat gelap yang tak menjanjikan apa-apa, tetapi mereka yakin jika era reformasi ini terus ditekuni, mereka suatu saat nanti akan menemukan sesuatu yang selama lebih dari 30 tahun terakhir hilang ditelan sejarah, ”Indonesia yang demokratis”.

Orang-orang itu, seperti halnya tetangga Nashruddin tersebut, terus berbaik sangka bahwa ”kegelapan gudang” yang mereka alami saat ini adalah konsekuensi logis dari upaya menemukan kebenaran. Jika diseriusi, saatnya nanti ”cincin demokrasi” itu akan ditemukan juga. Allah berfirman, ”Sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan. Sekali lagi, sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan.” (QS alinsyirah: 5-6).

Satu Tanggapan

  1. Ada-ada saja…analoginya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: