Tiga Pemburu Dunia

Republika
Oleh SH Syamsul Rijal

Pada zaman Nabi Isa as, dikisahkan tiga orang musafir menemukan timbunan harta di tengah jalan. Karena lapar, mereka sepakat mengutus seorang di antara mereka membeli makanan. Di tengah jalan, orang ini berniat membunuh kedua rekannya dengan menaburi racun pada makanan. Dia berpikir, dengan begitu dia dapat lebih leluasa menguasai timbunan kekayaan itu seorang diri.

Sementara itu, kedua rekannya yang lain pun diam-diam sepakat membunuh rekannya yang membeli makanan, dengan harapan kekayaan itu hanya dibagi dua. Setelah rekan yang membeli makanan sampai di tempat, mereka langsung menerkam dan membunuhnya. Setelah itu mereka menyantap makanan beracun tadi dengan suka cita. Apa hendak dikata, kedua rekan yang terakhir inipun mati menemui ajal.

Konon Nabi Isa as sempat mengunjungi tempat kejadian itu dan kepada Alhawariyyuun, pendukungnya yang setia, ia berkata, “Lihat, inilah dunia, bagaimana ia telah membunuh ketiga orang itu sekaligus. Setelah mereka, tentu akan banyak lagi korban-korban berguguran dari para pemburu dan pencinta dunia.”
Dari kisah di atas terlihat bagaimana kehidupan dunia telah memperdaya ketiga pejalan kaki tersebut. Keserakahan, iri, juga dengki telah merasuk ke dalam diri mereka sehingga tak seorang pun mendapat timbunan harta yang mereka temukan. Nah, di tengah kondisi saat ini, ketika kebutuhan hidup melonjak naik, kita pun harus berhati-hati jangan sampai tergelincir oleh fatamorgana dunia sebagaimana kisah di atas.

Menurut Imam Alghazali, dunia tak ubahnya jalan yang dilalui seorang musafir. Di jalan yang dilalui itulah manusia hendaknya sekadar mengambil bekal, bukan harus menguasainya secara rakus, untuk menjadi teman dan pendampingnya kelak di alam kubur. Dengan bekal itu pula ia nantinya berjumpa Allah seraya mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan sepanjang perjalanannya sebagai musafir di dunia ini.

“… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) …” kata Allah mengingatkan kita semua dalam QS Alhasyr: 18.

Rasulullah saw juga bersabda, “Orang yang paling kuat daya pikirnya adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menggapai kemuliaan dunia dan akhirat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: