Prinsip Tawakal

Republika
Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

Diceritakan, ada seorang dari suku Badui yang meletakkan untanya sembarangan ketika akan beristirahat di suatu tempat. Namun, dia sengaja tidak menambat unta itu. Selesai istirahat, ketika ia hendak kembali melanjutkan perjalanan, ternyata untanya telah hilang. Kontan saja ia panik setengah mati. Orang-orang sekitar mengerumuninya begitu mendengar suara memekik orang itu, memanggil unta yang kabur. ”Untaku, untaku … ke mana untaku?”

Sambil mencari ke sana-sini, ia meyakinkan dirinya bahwa ketika kali terakhir dia melihat lapangan, unta tunggangannya itu masih ada, berkumpul bersama unta-unta lain. Ia yakin untanya tak akan kabur karena Allah akan menjaganya. Ia telah bulat hati mempercayakan unta itu pada Allah. Atas dasar keyakinan demikian ia merasa tidak perlu lagi menambatkan untanya ke tiang. Malah Badui itu mengklaim diri telah melakukan salah satu kesalehan, tawakal. Benarkah sikap tawakal ala Badui itu? Ternyata tidak. Tawakal bukanlah pasrah diri seperti yang dilakukan Badui itu. Setidaknya, itu adalah model sikap yang merugikan. Orang bisa terkikis tandas harta benda miliknya jika menggunakan model sikap seperti itu. Apalagi di alam yang materialistis seperti sekarang ini.
Allah memuliakan sikap tawakal. ”Dan hanya kepada Allah saja bertawakal orang-orang yang beriman.” (QS Almaa’idah: 11).

Sikap tawakal itu tidak berdiri sendiri. Sikap ini ditopang oleh dua hal lain yang sangat prinsipil. Pertama, orang bertawakal adalah setelah menyempurnakan ikhtiar. Kedua, tawakal diiringi keyakinan bulat bahwa segala sesuatu terjadi hanya karena kehendak dan takdir Allah. Orang bertawakal hatinya utuh pada Allah, namun keringatnya deras mengucur karena usaha.

Sikap tawakal yang benar akan melahirkan kecukupan. ”Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS ath-Thalaq: 3).

Tawakal bukan saja mulia, namun dengannya Allah akan menaungi hamba-hamba-Nya dengan kecukupan. Sepantasnya kita berlatih menyempurnakan sikap tawakal kita. Tetapi, tentu bukan model tawakal seperti Badui tersebut. Wallahu a’lam bis shawab. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: