Menjaga Lidah

Republika
Oleh : KH Jamaluddin Kafie

Diam itu kebijaksanaan tapi sedikit sekali yang melaksanakannya. (Luqman Hakim)

Abu Sufyan Ats-Tsaqafi berkata, “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang suatu hal yang bisa kupakai sebagai upaya menjaga diri.” Nabi saw menjawab, “Katakanlah, aku telah beriman dan istiqamah-lah.” Dia berkata lagi, “Lalu apa yang harus kujaga?”
Nabi menjawab sambil memegang lidahnya, “Ini!” (HR Nasa’i, Turmidzi, Ibnu Majah).

Iman, istiqamah, dan menjaga lidah agar senantiasa berbicara yang baik atau berdiam dari membicarakan yang buruk adalah sesuatu yang banyak mendorong manusia masuk surga. Uqbah bin Amir berkata, “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke neraka?” Jawab Nabi, “Mulut dan kemaluan.” Tanyanya lagi, “Apakah jalan keselamatan hidup?” Jawab Nabi, “Tahanlah lidahmu, perluaslah rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR Turmidzi dan Ibnu Majah).

Umar bin Khatab pernah melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq sedang menarik lidahnya dengan tangan. “Apa yang Anda perbuat wahai khalifah Rasulullah?” Abu Bakar menjawab, “Inilah yang akan menyeretku ke dalam kehancuran. Sesungguhnya Rasulullah bersabda bahwa satu-satunya anggota tubuh manusia yang diadukan kepada Allah pada hari kiamat nanti adalah lidah karena ketajamannya.” (HR Ibnu Abid Dunya, Daraquthni).

Benar, di hari kebangkitan nanti, semua yang keluar dari lidah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Kebanyakan dosa anak Adam berpangkal dari ucapan, pembicaraan, atau kata-kata yang keluar dari lidahnya. Karena bahaya lidah seringkali terjadi dan kebanyakan manusia sulit menahan diri, maka dalam beberapa hadisnya, Rasulullah menganjurkan agar kita lebih banyak diam. “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Yaitu diam dan akhlak yang baik,” kata Nabi. (HR Ibnu Abid Dunya).

Bila kita teliti, pembicaraan orang dapat dikelompokkan ke dalam empat bagian: pembicaraan yang sepenuhnya berbahaya, pembicaraan yang sepenuhnya bermanfaat, pembicaraan yang mengandung bahaya dan manfaat sekaligus, dan pembicaraan yang tidak berbahaya dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Di sinilah kita harus bisa menempatkan lidah secara proporsional, kapan harus berbicara dan kapan mesti diam.

“Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir,” Firman Allah dalam QS Qaaf: 18.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: