Menangislah …

Publikasi: 14/06/2002 15:15 WIB

eramuslim – Kesempurnaan penciptaan manusia sebagai suatu kelebihan yang diberikan Allah, bukanlah menjadi alasan manusia untuk sombong dan berlaku angkuh di muka bumi. Tidak untuk menunjukkan bahwa ia lebih baik dari makhluk Allah lainnya. Karena jika demikian, tentulah manusia tidak sedikitpun menampakkan perbedaannya dengan Iblis yang terkena murka Allah karena merasa lebih baik dari manusia (Adam). Sungguh, jika manusia mau bertafakkur merenungi hakikat penciptaan dirinya dengan segala kesempurnaannya, tentulah tak ada manusia yang ingkar dan mempersekutukan Allah. Hanya saja, disinilah letak kebodohan manusia sehingga sering kali terlihat manusia-manusia yang berjalan dengan membusungkan dada.

Padahal, kalau saja manusia mau belajar dari setiap kejadian diatas muka bumi, tentulah tidak ada yang bodoh dengan menentang setiap perintah dan ketentuan-Nya. Seringkali manusia terlalu merasa hebat sehingga Allah pun memperlihatkan kepadanya bahwa segala kekuatan, kekuasaan, kelebihan, kehebatan yang dimiliki manusia itu bahkan tak terlihat sebesar atom (partikel terkecil) pun bila dibandingkan dengan apa yang dimiliki Allah yang Maha Besar. Meski seringkali pula Allah menunjukkan kepada manusia, bahwa segala rencana, kehendak manusia takkan pernah bisa terwujud tanpa gerakkan tangan-Nya. Bahwa setiap keinginan manusia tidak selamanya sesuai dengan keinginan-Nya, dan bahwa tidak jarang pula Allah memberikan hikmah kepada manusia dari setiap kegagalan.

Jika sudah demikian, biasanya manusia akan menangis, semakin dekat ia dengan Allah maka biasanya makin mudah manusia meneteskan airmatanya. Makin merasa ia begitu bergantung kepada Sang Maha Mengatur, semakin sering matanya sembab berlinang air. Dan semakin ia tahu bahwa segala sesuatunya hanyalah kehendak Allah kejadiannya, genangan air di kelopak matanya pun takkan pernah ada habisnya.

Manusia hanya bisa berharap, berkeras, manusia hanya bisa berkeinginan, dan manusiapun hanya diberikan wewenang untuk berencana. Jika kemudian ada harapan dan tujuan yang tercapai, ada keinginan yang terpenuhi dan ada rencana-rencana yang terealisasi, maka sesungguhnya Allah lah yang berkehendak atas semua itu. Hanya saja, sedikit manusia yang bersyukur dan mengingat bantuan-Nya dari semua yang telah diraihnya itu.

Namun jika kemudian segalanya terjadi diluar rencana, harapan, dan keinginan, karena Allah berkehendak lain, barulah manusia mengingat-Nya. Manusia begitu menyadari bahwa dirinya tak mampu berbuat apa-apa jika Allah sudah berkehendak. Jika demikian, manusia biasanya menangis. Namun sekali lagi, ketika setelah menangis ada harapan dan keinginan yang terwujud, ia pun tertawa dan kembali lupa kepada Sang Pemberi harapan.

Maka janganlah heran, jika kemudian Allah selalu berkehendak diluar rencana manusia karena manusia itu sendiri tak semakin dekat kepada-Nya. Dan karena itu manusia sering menangis, melelehkan air matanya tatkala merasa dirinya hancur, obsesinya gagal, harapannya tak terkabul, cita dan cintanya berantakan, bahkan mereka bisa saja menangis sekeras-kerasnya apabila apa yang sudah diupayakan sekuat tenaga, seumur hidupnya, menemui kebuntuan.

Tak mengapa, menangislah … kenapa harus merasa cengeng saat kita meneteskan air mata. Toh sejak kecil kita sudah terbiasa menangis. Saat kita masih bayi, menangis adalah cara terbaik untuk memberitahu bahwa kita lapar, haus atau sekedar minta digantikan popok. Kita juga terbiasa menangis jika orang tua kita tak membelikan mainan yang sangat diinginkan. Menangis juga kita lakukan saat uang jajan kita kurang dari biasanya. Dan masih banyak lagi airmata mengalir, saat gagal ujian mungkin, atau saat ditinggal orang tercinta. Sekarang, menangis mungkin juga cara terbaik untuk memberi tahu kepada Allah, bahwa kita begitu lemah dan akan sangat bergantung kepada-Nya.

Tak apa, menangislah … karena menangis adalah cara Dia untuk menunjukkan kekuasaan dan kemahabesaran-Nya. Air mata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manusia agar senantiasa mengingat Allah. Titik-titik air bening dari mata itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah menurunkan hujan dari langit, untuk mengairi bumi dari kekeringan. Seperti itu juga tangis manusia, akan membasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar senantiasa menghadirkan kembali wajah Allah yang mengiringi setiap langkah ini selanjutnya.

Tak perlu sungkan, menangislah … mungkin airmata itu akan mampu merontokkan bongkah-bongkah keangkuhan dalam dada ini sehingga semakin menyadarkan kita bahwa hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Mungkin juga air mata itu akan melelehkan pandangan mata ini dari menganggap remeh orang lain dan semakin menjernihkan kaca mata ini untuk lebih bisa melihat kemahabesaran dan kekuasaan-Nya. Atau mungkin airmata itu akan membersihkan debu-debu pengingkaran yang menyesaki kelopak mata kita sehingga seringkali kita lupa bersyukur atas setiap nikmat-Nya.

Biarlah airmata itu terus menetes, toh dengan itu hati ini akan semakin basah dengan ketawadhu’an, qona’ah, juga menumbuhkan cinta terhadap sesama. Mungkin airmata itu akan semakin membanjiri setiap relung hati ini dengan kesadaran akan kembali kita kepada-Nya.

Biarlah kemudian, hari-hari selanjutnya penuh dengan airmata. Airmata ketakutan akan adzab Allah yang sangat pedih, sungguh, airmata yang demikian akan mampu menyelamatkan kita. Airmata yang terus mengalir tatkala menyaksikan bentuk-bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, penindasan, dan kezhaliman, sungguh, airmata inilah yang akan memberikan tenaga sedemikian dahsyat untuk kemudian membela dan mengangkat yang lemah. Airmata yang tak pernah berhenti saat kita semakin mendekatkan diri ini dalam do’a, lafaz-lafaz dzikrullah, dan dalam keheningan malam bersama-Nya, sungguh, insya Allah airmata inilah yang dapat membuat kita tersenyum di yaumil akhir kelak. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: