Memberi Tanpa Pamrih

Republika

Oleh Makmun Nawawi

Salah satu pesona Rasulullah dan para sahabat yang menyedot simpati banyak orang adalah sifat memberi tanpa pamrih. Tak ada yang menggerakkan kebiasaan memberi terhadap sesama kecuali karena Allah. Maka apa pun reaksi orang yang menerima pemberiannya, tidak menjadi masalah. Karena mereka bukan mengharap imbalan dari manusia atau si penerima, melainkan hanya berharap kepada Allah –Yang imbalan-Nya sungguh tak terperikan.

Seperti nabi, pemberian seorang Mukmin terhadap sesamanya juga seyogianya didasarkan atas ketakwaan dan bukan hanya karena ada kepentingan tertentu. Misalnya, karena si fulan adalah kroninya atau simpatisannya, maka ia lebih berhak memperoleh pemberian. Bukan! Bahkan memberi sesuatu kepada orang yang tak pernah memberi pada kita dinilai sebagai akhlak yang paling utama. Dari Uqbah bin Amir al-Jahny ra, ia bertutur, ”Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Uqbah, maukah kamu kutunjukkan akhlak yang paling utama bagi penghuni dunia dan akhirat? [Yaitu] engkau menyambung (silaturahim) dengan orang yang memutuskanmu, memberi kepada orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu’.” (HR Hakim).

Jadi bantuan seorang Muslim bagi sesamanya tidak saja berisi pengorbanan dan perjuangan karena telah menyingkirkan supremasi egonya, tetapi juga sepi dari target-target tertentu. Biasanya, pemberian semacam inilah yang bisa langgeng dan si penerimanya pun akan menerimanya dengan lapang dada sehingga doa dan pujian untuk si pemberi pun akan meluncur dengan sendirinya, tulus, dan tanpa harus diminta.

Sayang, pemberian model nabi dan para sahabat kini nyaris punah dari sekeliling kita sehingga jasa baik terhadap orang lain dianggapnya sebagai pemberian utang yang harus dibayar dan segalanya serba dikomersialkan. Yang lebih menyedihkan lagi, pemberian seperti inilah yang justru mewarnai sistem kehidupan kita sehingga begitu target dan ambisinya sudah terpenuhi, maka pemberian bagi sesama pun tak lagi dilakukan.

Bila demikian yang terjadi, rupanya kita ini jauh sekali dari perilaku Abu Bakar. Sebelum menjadi khalifah, beliau suka membantu memerah susu di kampung yang banyak ditinggal pergi kaum laki-lakinya. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, salah seorang wanita dari kampung tersebut berkata, ”Kini ia tak akan memerah susu lagi.” Ketika ucapan itu sampai ke telinga Abu Bakar, ia pun berkata, ”Tidak! Saya berharap, apa yang saya alami kini tidak membuatku berubah dari apa yang telah aku lakukan.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: