Kepasrahan Hati Qais

Republika
Oleh : Sabrur R Soenardi

Suatu hari, Qais bin Ashim sedang beristirahat. Budaknya datang membawakan Qais daging panas yang masih tertusuk besi pemanggang. Belum sempat diletakkan di depan Qais, tanpa sengaja besi pemanggang itu jatuh menimpa anak Qais yang masih kecil. Si anak menjerit kepanasan lalu tewas. Melihat budaknya pucat pasi, Qais cuma berkata, ”Aku bukan saja tidak marah kepadamu, tetapi mulai hari ini kamu kumerdekakan.”

Tentu saja Qais sayang anak. Namun, karena hatinya selalu merasakan bahwa segala kejadian adalah takdir Allah belaka, maka ia pun rela dan sabar. Rasa penghambaan, malu, hina, dan takut akan kekuasaan Allah membuat dia tenang menghadapi kematian anaknya, kendati itu disebabkan oleh kelalaian budaknya.

Rasa marah, pada hakikatnya, lahir dari perasaan ”pertuanan” yang ada dalam diri kita. Perasaan itu membuat manusia merasa lebih besar, lebih mulia, lebih hebat, lebih segala-galanya, dibanding orang lain. Tanpa semua perasaan itu, sebenarnya tak mungkin kita menjadi pemarah.

Sebaliknya, kita akan lemah lembut dan pemaaf terhadap sesama. Toh, sejatinya manusia sama saja, ia datang ke dunia ini lewat jalan yang gelap, lubang kencing yang hina. Ia tanpa sedikit pun harta, berbau anyir. ”Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut bunda kalian dalam keadaan bodoh akan segala sesuatu. Lalu Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS Annahl: 78).

Berbagai nikmat Allah selanjutnya –baik berupa kecantikan, kepandaian, pengetahuan, pangkat dan jabatan– sesungguhnya adalah pinjaman dari-Nya, dengan tujuan agar kita dapat beribadah sebaik mungkin menurut kehendak-Nya. Ini perwujudan rasa syukur kita kepada Allah. Janganlah karena bermacam nikmat itu kita justru jauh dan durhaka kepada Allah, seperti yang disindir nabi saw, ”Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuk, tidak bertambah dari Allah kecuali kejauhan dari-Nya”.

Kisah Qais bin Ashim seakan mengajari kita tentang bagaimana menjaga hati dari sikap dengki atau marah kepada sesama. Marilah kita jaga hati dari sikap benci karena, seperti kata nabi, ”Jauhkan sikap dengki karena sikap ini akan melahap berbagai amal baik, seperti api melalap kayu bakar.” Wallahu a’lam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: