Keledai Lukman

Republika
Oleh: Helmi Hidayat

Nabi yang terkenal gemar menggunakan teori tajaahul atau dialektika adalah Lukman al-Hakim. ”Si Bijaksana” ini biasanya gemar berpura-pura bodoh saat mencerahkan masyarakatnya, agar ilmu yang diajarkan lewat teori dialektika terserap dengan sempurna.

Alkisah, suatu hari, Lukman mendidik anaknya dengan mengajak remaja itu pergi jauh. Mereka berangkat bersama seekor keledai. Di ujung kampung, masyarakat mengkritik Lukman yang sama sekali tidak mengendarai hewan itu. ”Lukman, di mana-mana keledai ditunggangi, bukan cuma dituntun. Anda ini bagaimana?”

Lukman patuh. Dia menunggangi keledai itu, sementara anaknya menuntun. Di gerbang sebuah kampung, mereka diprotes. ”Orang tua macam apa Anda ini, Lukman?” kata mereka. ”Masa orang tua naik keledai, sedangkan anaknya dibiarkan jalan kaki?”

Lukman tidak membantah, malah menyuruh anaknya menaiki keledai mereka. Keduanya terus berjalan seperti itu, sampai mereka tiba di ujung kampung lainnya. Lagi-lagi, di sini masyarakat protes. ”Semoga masuk neraka anak kurang ajar ini,” teriak mereka. ”Beraninya dia naik keledai, sementara ayahnya dibiarkan terlunta-lunta.”

Kali ini, anak Lukman mulai bingung. Dia merasa serba salah. Tetapi, akhirnya, dia mematuhi usul ayahnya agar mereka menunggangi keledai kurus itu bersama-sama. Sang keledai terlihat terhuyung-huyung ketika masyarakat tiba-tiba menghadang perjalanan mereka, lalu berdemonstrasi.
”Kami belum tentu berakhlak baik, Lukman!” kata mereka. ”Tetapi, kami tidak sampai hati mengeroyok keledai kurus seperti ini. Di mana perikemanusiaan Anda?”

Lukman dan anaknya buru-buru turun dari keledai itu, lalu minta maaf. Mereka kemudian menuntun keledai itu sekali lagi. Tapi, khawatir dikritik seperti kejadian pertama, Lukman cepat-cepat menghentikan perjalanannya, lalu mengajak anaknya bermusyawarah.
”Terserah ayah saja. Saya bingung,” kata anaknya.

”Kalau begitu, mari kita gendong keledai ini bersama-sama,” perintah Lukman. Bapak dan anak itu kemudian menggotong keledai itu sampai ke rumah, biar pun sepanjang jalan masyarakat memaki-maki dan mengkritik mereka.

Kita dianjurkan bersikap ramah dan bijaksana seperti Lukman, dan dianjurkan bersikap patuh dan moderat seperti anaknya. Tetapi, kita pasti dilarang bersikap pasif seperti keledai Lukman, yang sama sekali tidak berpikir ketika kelompoknya dikritik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: