Kejujuran Abudzar

Republika
Oleh: Darmius

Di zaman Rasulullah, seorang pemuda bernama Abudzar bin Ghifar pulang dari Madinah menuju Yaman mengendarai onta. Letih berjalan, Abudzar berhenti untuk melepas lelah, sementara itu ontanya diikat di pohon.

Tetapi, ontanya yang kelaparan masuk ke kebun milik orang lain dan melahap apa yang ada. Pemilik kebun marah, sang onta dibunuh.
Begitu Abudzar terbangun, dia terkejut ontanya sudah tewas. Dia lalu membunuh si pemilik kebun karena marah. Abudzar lalu ditangkap. Di negara Arab berlaku hukum qishash –jika seseorang membunuh, maka dia juga harus dihukum pancung.

Sebelum menjatuhkan vonis, hakim memberikan kesempatan kepada Abudzar untuk menyampaikan sesuatu. Dia lalu meminta majelis hakim mengizinkannya menemui anak dan istrinya karena mereka belum tahu dia bakal dihukum mati.

Tetapi, hakim menolak karena khawatir Abudzar kabur. Walaupun Abudzar berusaha meyakinkan, tetapi majelis hakim tetap menolak. Dari sekian banyak orang yang menyaksikan proses persidangan, tampillah seorang pemuda mendekati majelis hakim. ”Tuan Hakim yang mulia, kalau boleh hamba mengusulkan agar membiarkan pemuda ini menemui anak dan istrinya dan hamba bersedia jadi jaminannya. Kalau dia tidak kembali, hamba bersedia dipancung,” katanya tegas.

Orang yang melihat ketegasan pemuda ini bersipandang satu sama lain. Mereka heran dengan kenekatan laki-laki ini, berani menjamin seseorang yang bisa jadi belum dikenalnya. Akhirnya, dengan pertimbangan perikemanusiaan, hakim mengizinkan Abudzar menemui keluarganya.

Mendekati jam hukum pancung yang ditentukan, Abudzar ternyata belum kembali. Masyarakat yang menyaksikan proses pengadilan itu khawatir jika Abudzar tidak kembali, maka pemuda yang memberi jaminan inilah yang akan dihukum pancung. Tapi, Abudzar terkenal sebagai Muslim yang beriman dan menepati janji. Dari jauh terlihat ia berlari-lari menuju tempat pelaksnaan hukuman pancung.

Apa yang terjadi kemudian sungguh di luar perkiraan. Melihat kejujuran Abudzar, majelis hakim punya pertimbangan lain. Mereka membebaskan lelaki jujur itu, juga otomatis melepaskan lelaki penjamin itu dari hukuman maut yang menunggunya.

Kini, di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, banyak orang terlibat masalah hukum, tetapi justru berupaya sekuat tenaga lepas dari tanggung jawab. Mereka lupa Tuhan Mahamelihat lagi Mahaadil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: