Jibril dan Cacing

Republika
Oleh : Siti Nuryati

Suatu hari Allah SWT memerintahkan Jibril menemui makhluk-makhluk-Nya. Pilihan pertama jatuh pada kerbau. Di siang yang panas itu, kerbau sedang berendam di sungai. “Hai Kerbau, apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor kerbau?”

“Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah yang telah menjadikanku seekor kerbau, daripada dijadikan kelelawar yang mandi dengan kencingnya sendiri.”
Jibril lalu pergi mendatangi kelelawar yang siang itu sedang tidur di sebuah goa. “Hai kelelawar, apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor kelelawar?”
“Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah yang telah menjadikanku kelelawar ketimbang cacing. Sudah tubuhnya kecil, tinggal di tanah, jalan pun menggunakan perut.”

Mendengar jawaban itu Jibril segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah. “Hai cacing kecil, apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing.”

Si cacing pun menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah yang telah menjadikanku sebagai seekor cacing, daripada dijadikan aku sebagai seorang manusia. Bila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal salih, setelah mati, mereka akan disiksa selama-lamanya.”

Apa yang dikatakan cacing kecil itu sungguh membuat kita, sebagai manusia, mestinya tersentak. Kita patut merenungkan firman Allah dalam surah Al-A’raf: 179, “Mereka (manusia) memiliki mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka memiliki telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.”

Sungguh ironis, tatkala kita saksikan banyak manusia zaman sekarang yang masih bisa berlagak meski mereka adalah koruptor, penilap harta negara dan uang rakyat, membeli hukum dan keadilan dengan kekuasaan, merekayasa kondisi demi kejayaan pribadi, berpesta di atas penderitaan orang lain. Andai mereka sadar bahwa diri mereka termasuk golongan yang tidak lebih mulia dari binatang ternak, seharusnya mereka malu berbuat seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: