Ghibah Sebuah Character Assassination

eramuslim – Salah satu akhlak mulia Nabi Saw adalah bahwa beliau tidak pernah bercerita tentang aib atau keburukan seseorang. Sebagai utusan Tuhan, yang harus memberikan jawaban yang diajukan para sahabat, saat itu beliau tentu sering mendapatkan keluhan, pengaduan dan pelbagai cerita dari umatnya. Padahal, kalau saja Nabi mau, tentu banyak hal yang ia sebarluaskan kepada sahabat-sahabatnya. Nabi Muhammad SAW tak mau menginformasikan kabar-kabar yang dirasa melukai perasaan umatnya. Itulah sifat Nabi, yang dalam bahasa akhlaknya, tark al-ghibah (meninggalkan pembicaraan aib orang lain).

Dalam pergaulan sehari-hari, entah di rumah tangga, di kantor, di perjalanan, bahkan di majlis ta’lim, kadang kita dengan sesuka hati bercerita tentang kawan kita. Tanpa sadar apa yang kita ungkapkan adalah sesuatu yang tak disukai olehnya. Alhasil kita telah menebar bibit dosa.

Pada sebuah kesempatan Nabi pernah memberikan nasehat kepada para sahabatnya,”Jagalah dirimu dari ghibah? Para sahabat bertanya,”Apa ghibah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab,”Engkau menyebut tentang saudaramu, dan ia benci terhadap apa yang engkau bincangkan”. Lalu mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau yang diceritakan itu benar adanya?” “Jika apa yang engkau ceritakan benar apa adanya berarti engku telah ghibah, dan jika tidak, maka engkau telah membuat fitnah padanya,” ujar Nabi lagi.

Begitulah Nabi mewanti-wanti para sahabatnya agar hati-hati dalam bergaul. Sebab, jika sedikit saja kita keseleo ngomong, atau tak sengaja kita menggunjing tentang perilaku atau sikap seseorang yang sebenarnya harus kita tutupi, maka sama saja kita memakan daging bangkai kawan kita sendiri. “Apakah di antara kalian suka memakan daging sudaranya sendiri?” kata Allah dalam surat Al-Hujarat.

Sungguh ghibah perbuatan lisan yang berbahaya, baik bagi seseorang yang melakukannya maupun pihak lain. Tak terkecuali kawan kita yang diajak bicara. Dosanya bisa menjalar ke mana-ke mana ibarat aliran listrik, cepat dan membunuh kepribadian orang lain. Bahaya bukan? Allah menilai perbuatan ghibah sebagai perbuatan yang melukai nurani, kehormatan, harga diri manusia, dan lebih besar lagi dosanya jika yang kita ghibahi adalah orang mukmin. Karenanya wajar sekali jika Allah menyatakan, bahwa orang-orang yang melukai orang-orang beriman, baik laki-laki ataupun perempuan, sesungguhnya ia telah membuat dusta dan dosa besar. Nabi sendiri, mensejajarkan dosa ini dengan dosa-dosa besar, seperti syirik, sihir, memakan harta anak yatim, dan sebagainya.

Lalu bagaimana menghindari ghibah? Para ulama sufi menasehati kita agar kita jangan sekali-kali ada rasa benci, iri dan acuh-tak acuh. Inilah di antara sifat-sifat yang mendorong kita untuk melakukan ghibah. Di kala kita benci, iri dan acuh tak acuh terhadap seseorang di situlah kita mudah tergoda untuk membincangkannya. Lebih-lebih jika hal itu berkaitan dengan soal politik. Kita dengan seenaknya mencaci, menghardik, menganggap remeh seseorang yang berbeda dengan alur politik kita. Bukankah sebaiknya kita mau belajar tentang dirinya, atau setidaknya memberi taushiyah atau nasehat kepadanya?

Nabi Saw. dalam menyampaikan dakwah, baik di Mekkah maupun di Madinah, kepada lawan-lawannya tak pernah mencaci, apalagi acuh tak acuh! Kendati Nabi yang mulia itu sering dicaci, dihina dan dikucilkan. Lantas bagaimana kita dengan sesama muslimin yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita? Allahu a’lam (Hayya Nasy’ur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: