Dzun Nun

Republika
Oleh : Wawan Susetya

Nama aslinya Abul Faiz Tsuban bin Ibrahim Almishri. Namun, tokoh sufi yang dilahirkan di kota Ekhmim, Mesir, sekitar tahun 180 H/796 M itu dijuluki Dzun Nun alias Dzun Nun Almishri. Ia dianggap sebagai ahli kimia yang punya kekuatan gaib dan mengetahui rahasia tulisan Hiroglif Mesir.

Suatu hari, Dzun Nun Almishri menjumpai pemuda yang kerap mencemooh kaum sufi. Pemuda ini menganggap kaum sufi adalah begundal miskin tak berarti. Dzun Nun lalu memberikan cincin di jarinya pada si pemuda itu. “Gadaikan cincin ini dengan satu dinar,” katanya.

Pemuda ini membawa cincin itu ke pasar, tapi tak seorang pun mau menerimanya dengan harga satu dinar. Dia menyampaikan hal itu pada Dzun Nun. “Sekarang bawalah cincin ini kepada pedagang permata dan tanyakan harganya!” kata Dzun Nun.

Ternyata, para pedagang permata menaksir cincin itu seribu dinar. Ketika si pemuda kembali, Dzun Nun berkata, “Kamu hanya mengetahui kaum sufi seperti para pemilik warung di pinggir jalan tadi mengetahui harga cincin ini.” Si pemuda bertobat dan tak mau mencemooh para sufi.

Di hari lain, seorang lelaki datang pada Dzun Nun. “Aku punya utang, tapi tak mampu bayar.”

Dzun Nun lalu memungut batu, dan dengan izin Allah batu itu berubah jadi zamrud. “Jual zamrud ini ke pasar, mudah-mudahan bermanfaat.” Di pasar, zamrud tadi terjual empat ratus dirham. Ternyata, nilai itu sesuai dengan jumlah utang si lelaki tadi.

Itulah gaya hidup para kaum sufi, yang dengan pakaian bulu domba mereka terkesan fakir dan miskin. Mereka memang fakir, tetapi fakir ilallah — selalu merasa butuh berhubungan dengan Allah.

Mereka tak butuh pada makhluk karena makhluk membuat diri mereka terhijab. Di antara kaum sufi tadi memang ada yang miskin, bahkan cenderung fakir-miskin. Meski di antara mereka ada pula yang menurut ukuran orang tergolong kaya raya, berpangkat, bahkan punya beberapa istri cantik, namun tetap saja segala sesuatu yang bersifat keduniaan tidak mereka tempatkan di hati. Di hati mereka hanya ada Allah.

Alangkah berbeda gambaran manusia suci seperti Dzun Nun dengan masyarakat modern saat ini. Jika Dzun Nun hanya menomorsatukan Allah dan membuang jauh-jauh keduniaan, banyak orang kini malah membuang Tuhan seraya memuja harta dan tahta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: