Doa Seorang Bayi

Republika
Oleh : Joni Arisanto

Rasulullah saw pernah bercerita tentang seorang bayi yang ketika sedang menyusu kepada ibunya, mendadak lewat seseorang yang gagah dan berkendaraan mewah. Ibunya berkata, “Ya Allah, jadikanlah putraku ini seperti orang itu.”

Mendadak, bayi itu melepaskan puting susu ibunya dan melihat orang yang berkendaraan itu sambil berkata, “Ya Allah, jangan kau jadikan aku seperti orang itu.”

Setelah itu ia menyusu kembali. Tiada lama, ada seorang budak dipukuli majikannya sambil tuannya berkata, “Kau pencuri, kau pelacur,” sementara sang budak hanya membaca, “Hasbiyallah wani’mal wakil” (cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik zat yang dia pasrahi).

Ibu sang bayi berkata, “Ya Allah, jangan jadikan putraku seperti perempuan itu.”

Bayi itu segera berhenti lagi dari menyusu dan melihat budak yang dianiaya itu sambil berkata, “Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.”
Sang ibu sangat heran lalu mempertanyakan semua tindakan bayinya yang dia anggap selalu bertolak belakang dengannya. Si bayi kemudian menjelaskan, “Laki-laki berkendaraan yang gagah itu adalah orang yang sangat kejam, sedangkan budak itu dituduh berzina, padahal dia tidak berzina; dituduh mencuri, padahal ia tidak mencuri; maka aku berdoa ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia’.”

Kekaguman seorang ibu kepada seseorang yang berpenampilan gagah dan berkendaraan mewah, lalu berharap agar putranya seperti orang tersebut, adalah hal wajar, sewajar ia tidak berharap anaknya jadi budak yang digebuki dan dicaci-maki tuannya. Itulah ciri asli setiap manusia, yang di dalam diri mereka Allah swt sengaja menitipkan perhiasan berupa kecintaan yang besar pada pasangan, keluarga, dan juga harta.

Namun, lewat hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim itu, Allah sekali lagi hendak mengingatkan kita bahwa apa yang tampak, terutama apa yang sesuai dengan perhiasan titipan Allah itu, tidak selalu benar di sisi Allah. Pandangan manusia umumnya hanya terbatas pada apa yang tampak dari luar dan menafikan segala sesuatu yang bersifat batin.
Menilai sesuatu dari ukuran lahiriah sering tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang membolak-balik hati, menginsyafkan orang yang zalim, serta membantu orang-orang yang tertindas dan keletihan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: