‘Cambuk’ Allah

Republika
Oleh : Wawan Susetya

Pada suatu hari, Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq al-Balkhi mengunjungi Rabi’ah al-Adawiyah yang sedang sakit. Mereka adalah tokoh besar dalam sejarah kewalian. Hasan memulai pembicaraan, ”Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak tabah menanggung ‘cambukan’ Allah.”
Hasan bermaksud mengingatkan Rabi’ah agar tabah. Tetapi, Rabi’ah membalas pernyataan Hasan yang dianggap masih kurang tajam. ”Kata-katamu itu masih berbau egoisme.”

”Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak bersyukur karena ‘cambukan’ Allah,” kata Syaqiq.
”Ada yang lebih baik dari itu,” jawab Rabi’ah seraya mengisyaratkan agar tamunya berpikir dan merenungkannya.

Tiba-tiba Malik bin Dinar berkata, ”Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak merasa bahagia ketika menerima ‘cambukan’ Allah.” Ketiga wali Allah itu mengira jawaban Malik paling tepat. Bagaimana lagi menghadapi ”cambukan” Allah jika tidak merasa bahagia karenanya?

Ternyata, mereka dikagetkan dengan jawaban Rabi’ah yang masih seperti semula, ”Masih ada yang lebih baik dari itu!”
Setelah merenung, akhirnya mereka sepakat melempar persoalan ini pada Rabi’ah. Berkatalah Rabi’ah, ”Seorang manusia tidak dapat dipercaya kata-katanya jika ia tidak lupa kepada ‘cambukan’ Allah, ketika ia merenungkan-Nya.”

”Subhanallah …” Mereka bertiga tertunduk diam. Dalam hati terdalam, mereka mengakui kehebatan Rabi’ah tentang kepasrahan total kepada Rabb Mahapencipta.

Memang, cara menyikapi ”cambukan Allah” beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Cara tertinggi dilakukan kaum arifiin (makrifatullah) sebagaimana disampaikan Rabi’ah. Ketika ”cambukan” Allah datang, dia menghadapinya dengan senantiasa berdzikir pada-Nya (musyahadah). Dirinya lalu melebur (fana’).

Cara kedua adalah apa yang telah disampaikan Hasan al-Bashri. Seseorang yang tengah mendapat ”cambukan” Allah cenderung memohon agar diberi kesabaran dan ketabahan menghadapinya. Sedangkan cara ketiga dilakukan kebanyakan orang awam.

Ketika ”cambukan” Allah datang, mereka memohon agar Allah segera melenyapkan musibah itu. Cara manakah sebaiknya dilakukan Indonesia saat ”cambuk” krisis dari Allah kini melanda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: