Bilal bin Rabah

Republika
Oleh Suryana

Suatu hari, Rasululah saw bertanya kepada Bilal, “Sewaktu Aku bermi’raj ke Shidratul Muntaha, dalam perjalanan aku mendengar suara terompahmu di surga. Wahai Bilal, amalan apa yang engkau kerjakan sehingga engkau mendapat kemuliaan seperti itu?”

Dengan penuh tawadhu, Bilal menjawab, “Hamba bukanlah apa-apa, ya, Rasulullah.” Bilal tak ingin menjadikan ibadahnya ria, namun akhirnya dia menjawab, “Saya hanya menjaga diri saya selalu dalam keadaan berwudhu. Jika saya batal, maka saya kembali berwudhu dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat setelahnya.”

Sebelum masuk Islam, Bilal hanyalah seorang budak hitam yang tidak ada harganya. Pada zaman dulu, jual-beli budak sudah menjadi tradisi. Untuk ukuran saat itu, diri Bilal tak lebih hanya seharga sebuah kursi kayu yang sangat murah. Tidak ada seorang pun yang tertarik kepadanya, kecuali Umayyah, yang menjadi tuannya.

Ketika mendengar kabar tentang datangnya seorang Nabi yang membawa risalah Allah yang tidak membedakan golongan, suku bangsa, warna kulit, dan strata lainnya, Bilal tergerak untuk memeluk agama baru itu. Diam-diam Bilal menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya.

Mendengar berita ini, Umayyah marah lalu menyiksa Bilal di tengah padang pasir yang sangat panas. Cambukan, pukulan, dan batu besar yang menindih tubuhnya tak membuat imannya luntur. “Ahad, ahad,” hanya itu yang diucapkan lisannya. Kemudian datang pertolongan Allah melalui Abu Bakar, ditebuslah Bilal walaupun dengan harga yang sangat tinggi.

Bebaslah Bilal. Dia mencurahkan hari-harinya untuk Allah bersama Rasulullah dan kaum Muslimin. Sejak dia memeluk Islam, tidak ada lagi perbedaan antara dirinya dengan sahabat-sahabat yang lain. Bahkan, sahabat Umar bin Khatab sangat menghormatinya. Dalam suatu majlis Rasulullah, Umar tidak berani menegakkan badannya ketika duduk di samping Bilal. “Bagaimana aku mau meninggikan diri di hadapannya, sementara Allah memuliakannya dengan menjamin baginya Surga.”

Itulah Bilal bin Rabah. Seorang budak Habsy yang menjadi mulia bersama Islam. Dalam agama yang dipeluk muadzin pertama dalam Islam ini, tidak ada pembedaan strata dalam kehidupan masyarakat. Semua sama di hadapan Allah. Hanya takwa yang menjadikan seorang Muslim paling mulia di sisi Tuhannya (QS Al Hujurat: 13).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: