Amr dan Tulang Unta

Republika
Oleh : Sabrur R Soenardi

Suatu kali, Amr Ibn Al’ash, gubernur Mesir di zaman Khalifah Umar, berniat mendirikan masjid. Segala perlengkapan untuk pembangunan sudah disiapkan. Hanya saja, masalahnya, pada tanah di mana masjid akan dibangun itu ada sepetak milik seorang Yahudi.

Sang gubernur memerintahkan ajudannya membujuk si Yahudi untuk merelakan tanahnya. Sayang, si Yahudi tetap keras kepala meski sudah dijanjikan ganti rugi yang cukup besar. ”Demi Tuhan, saya tidak akan menyerahkan tanah milik saya, meski sejengkal pun,” kata si Yahudi itu.
Rayuannya tak berhasil, ajudan Amr main paksa. Dia membawa prajurit-prajurit sangar, lalu mengancam dan meneror si Yahudi miskin itu. Dengan sangat terpaksa, si Yahudi lalu melepas tanahnya meski dengan hati teramat dongkol.

Setelah mendapat izin (terpaksa) itu, pembangunan pun langsung dimulai. Amr gembira menyambutnya. Sebaliknya, si Yahudi amat sedih lalu bertolak ke Madinah. Ia ingin menemui Khalifah Umar minta keadilan.

Sesampai di Madinah, si Yahudi mendapati Khalifah Umar sedang tidur lelap di atas tikar yang kusam. Dengan sabar ia menunggu Alfaruq bangun. Ketika terjaga, Umar agak terkejut melihat rona kesedihan di muka si Yahudi miskin itu. Si Yahudi kemudian menceritakan masalahnya. Umar mendengarkan dengan saksama dan penuh perhatian.

Setelah cerita selesai, Umar kemudian menyuruh si Yahudi mencari sepotong tulang unta. Meski bingung, si Yahudi mencari dan menemukan sepotong tulang unta kering dan keropos. Umar menerimanya, lalu dengan pedangnya, Umar menggurati tulang tersebut dengan gambar dua garis saling melintang mirip simbol plus (+). ”Serahkan tulang ini kepada gubernurmu itu,” kata Umar.

Ketika tulang itu diserahkan, Gubernur Amr terperangah. Ia menangis sembari beristighfar berkali-kali. ”Kawan, kalau memang tidak rela tanahmu kurampas, maka akan kubongkar masjid itu segera. Milikilah tanahmu kembali. Itu lebih baik daripada aku harus menanggung siksa di akhirat nanti,” kata Amr.
”Apa maksud Anda, Tuan?”

”Tahukah Anda, guratan ini mengandung pesan bahwa aku harus bersikap tegak dan lurus dalam mengelola kekuasaan. Ketika tanda ini dibuat dengan pedang, artinya, jika aku tidak bisa mewujudkan sikap semacam itu, maka pedang Khalifah Umar yang akan melakukannya,” kata Amr.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: