Hajr Aswad

Republika, Jumat, 01 Februari 2002 12:00:00

Hajr Aswad (Batu Hitam)

Hajar Aswad, batu berwarna hitam yang berada disudut tenggara Ka’bah. Batu itu dilingkari besi putih yang direkat dengan timah, terletak kira-kira satu setengah meter dari permukaan lantai masjid. Dari sudut inilah thawaf dimulai dan diakhiri. Kalau memungkinkan, setiap mulai putaran, disunnahkan mencium atau mengusap dengan tangan kanan pada Hajar Aswad ini. Kalau tidak mungkin, disunnahkan melambaikan tangan kanan seolah memberi isyarat menyalami.

Mencium Hajar Aswad diluar waktu thawaf juga disunnahkan dengan niat mengikuti petunjuk Nabi. Dalam salah satu riwayat Bukhori-Muslim, diterangkan bahwa Sayyidina Umar (Khalifah II) sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan

”Demi Allah, aku tahu bahwa kau adalah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa, kalau aku tidak melihat Nabi menciummu, aku tidak akan menciummu” Jadi mencium Hajar Aswad ini bukanlah suatu kewajiban, tapi merupakan anjuran dan sunnah hukumnya. Kalau keadaan tidak memungkinkan, sebaiknya diurungkan saja niat mencium atau mengusap batu itu.

Ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah (606 H) hampir terjadi pertumpahan darah antara empat kabilah suku Quraisy yang berselisih pendapat tentang siapa yang berhak mengangkat dan meletakkan batu ini pada tempatnya. Selama lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat. Akhirnya muncul usulan dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumy yang menyatakan ”Alangkah baiknya, kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini”.

Karena Abu Umayyah orang tertua diantara Quraisy, maka pendapatnya disepakati. Ternyata orang yang pertamakali masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah (35 tahun), sebelum menjadi nabi yang pada saat itu sudah bergelar Al-Amin (orang yang terpercaya).

Mereka langsung meminta beliau untuk mengambil keputusan tentang pertikaian yang berbahaya itu. Kemudian Muhammad bin Abdullah menuju tempat penyimpanan batu itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu di atas sorbannya. Lantas Rasul menyuruh seorang wakil masing-masing kabilah yang sedang bertengkar memegang sudut sorbannya. Empat orang itulah yang mengangkat batu itu secara bersama-sama, lalu Muhammad saw yang memasangnya di sudut Ka’bah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: