Arafah dan Mudzalifah

Republika, Kamis, 07 Februari 2002 12:00:00

A R A F A H
Arafah adalah tempat jamaah haji melakukan wukuf yang arti harfiyahnya berdiam diri atau berhenti. Arafah terletak 21 KM sebelah tenggara Makkah. Ia merupakan tanah lapangan yang amat luas. Di bagian belakang dikelilingi oleh bukit berbentuk setengah lingkaran. Lapangan yang luasnya kira-kira 3,5 X 3,5 km ini sekarang sudah dilingkari dengan jalan-jalan besar beraspal dan ditanami pohon-pohon sehingga tampak dari atas seperti kotak-kotak hijau dengan garis-garis hitam.

Arafah berarti tahu atau kenal. Dinamakan demikian karena lokasi ini adalah tempat pertemuan Nabi Adam dan Ibu Hawa yang sebelumnya terpisah sangat jauh. Ketika turun dari sorga, Nabi Adam turun di India dan Ibu Hawa turun di Jeddah. Mereka saling mencari akhirnya saling melihat dan mengenal di lokasi ini, persisnya di Jabal Rahmah. Setelah ketemu kembali mereka berkumpul dan menetap di Makkah kemudian mengembangkan keturunannya dari sana. Peristiwa di lokasi ini diabadikan setiap tahun oleh Nabi Adam dan diteruskan oleh keturunannya sebagai ibadah. Kemudian disahkan oleh agama Islam sampai sekarang.

Berdo’a di Arafah merupakan yang paling afdhal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: ” Doa yang paling afdhal adalah doa di hari Arafah ”. Dalam riwayat lain Nabi bersabda ”Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hambanya dari Neraka selain hari Arafah”.

MUDZALIFAH

Muzdalifah terletak antara Arafah dan Mina dan termasuk tanah haram Makkah. Sekarang dapat kita lihat tanda-tanda batasnya tertulis dengan pelbagai bahasa. Jarak antara tanda batas yang ada perbatasan Arafah dan yang di perbatasan Mina adalah 4370 Meter.

Rasul saw bermalam di sini semalam suntuk. Beliau dan para sahabatnya melakukan shalat Magrib, Isya dan subuh. Baru setelah mulai remang-remang pagi beliau berangkat ke Mina. Jamaah haji zaman sekarang kebanyakan melakukan mabit di Muzdalifah ini diatas kendaraan masing-masing dan sebagian mempergunakan kesempatan untuk mencari batu kerikil yang akan digunakan melempar Jumrah. Dan itu hukumnya sudah memenuhi syarat Mabit (bermalam) asalkan meninggalkan Muzdalifah setelah tengah malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: