Jalan Paling berbahaya di Dunia

Jalan Kematian Bolivia
Jalan tersebut bernama Yungas Utara, terletak 70 km dari La Paz terletak pada pegunungan Andes. ketinggian Jalan Tersebut sekitar 800m disekitar jalan tersebut. Pegunungan tersebut berada pada ketinggian 3600 meter DPL. Jalan tersebut tujuan La Paz ke Coroico.
295040719_a9aa1627a7_o
295040722_9ecb79e476_o
295040725_d1874fc8ef_o
295040726_4e608d8b43_o
295041120_da53d88142_o
295041126_c0a53729d1_o
295048470_b75a3d9ebe_o
295052098_bcb5fa26b2_o
325907832_f5362ad53e_o
325907844_d5704fe51f_o

Jalur Lintasan Wisata Hiking di Xian , China
Hanya bisa pakai kereta gantung dan Jalan Kaki
277086665_36c1f0a6f2_o
277086664_b3c7c6e71e_o
277086662_69077c0ea1_o
277085767_c8f70565ee_o
277085765_371c698d63_o
277086661_bc7abfcdc4_o
277085766_fb79df04a1_o
304776977_75e3bc774a_o
293648975_64200319fd_o

Magnificient Guoliang Tunnel Road di China
Guoliang Tunnel di pegunungan Taihang dibangun oleh warga kampung setempat untuk melepaskan isolasi mereka. Memiliki panjang 1200 meter, dengan tinggi 5 meter dan lebar 4 meter. Mereka menjual kambing dan sayuran untuk membeli peralatan palu dan pahat. Dengan 13 orang memulai memahat dan selesai sekitar tahun 1977. Dan lorong tesebut bisa dilewati untuk lalulintas kendaraan.

313421629_85211b4705_o
313421662_42ea7d5fd3_o
313421695_57d69b121d_o
313421707_ac2919dafc_o
313421883_03191a7ff5_o
313421893_45549b7d6a_o
313421900_974a2c18b8_o
313421841_9d1e6ad82b_o
313421864_d3a37c8ad7_o

Jalan di Rusia dari Siberia ke Yakutsk

Ini adalah Jalan pemerintah satu-satunya yang menghubungkan siberia ke Yakutsk. Panjangnya sekitar 100km. Akan parah sekali kalo sedang musim hujan.
295090229_47ae1a154f_o
295090230_dc78c5a7d1_o
295090231_2cdd6b25f8_o
295090233_bd32c534c1_o
295090235_85eccf4808_o
295090600_7d78481e51_o
295090601_0fb3d8a739_o
326285421_c0b31123f5_o
326285469_e49ef77c01_o
326285645_4566d85034_o
.
Nyambung lagi .. ..

Surga untuk Suami Saya

Yuli Pujihardi – detikRamadan

Jakarta -Pagi itu, semua berjalan seperti biasa saja. Semua sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing apalagi hari itu banyak sekali kegiatan yang harus dipersiapkan oleh kami di Dompet Dhuafa.

Namun yang pasti hari itu, saya mendapatkan lagi pelajaran betapa sesungguhnya memberi pelayanan yang terbaik itu berlaku itu semua orang. Tak peduli apakah itu orang kaya, atau orang yang terlihat kaya atau terlihat biasa-biasa saja.

Pertama soal betapa prasangka itu, tidaklah benar. Menyangka ibu tua renta yang datang dengan anaknya itu tadinya adalah orang yang akan meminta bantuan, namun nyatanya ia malah muzakki yang dari dana zakatnya program rumah sehat terpadu kami insyaAllah dapat terwujud.

Kedua, jangan pernah melihat orang dari fisiknya saja. Yang disangka meminta malah membayar. Semoga Allah membuka hati ini terus-menerus untuk dapat menangkap kebaikan. Amin.

Bermula dari datangnya ibu dan anaknya, wajahnya biasa-biasa saja. Bahkan nampak sekali kerut-kerut di wajahnya membuat ia tampak semakin tua dan lelah saja. Ia datang untuk meminta penjelasan tentang program rumah sehat terpadu yang rencananya kami bangun di depan sekolah unggul bebas biaya di Parung, Bogor.

”Boleh, saya mendapatkan infomasi tentang Rumah Sehat Terpadu,” tanyanya perlahan.

”Boleh Ibu, informasi apa yang ingin Ibu dapatkan. Rumah Sakit itu sengaja kami beri nama Rumah Sehat, karena kami ingin agar mereka yang datang mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sehat tersebut menjadi sehat. Sementara kata terpadu dikarenakan di lokasi itu nantinya akan terintregasikan seluruh program-program pendidikan, kesehatan, ekonomi, yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Semuanya kami berikan gratis. Bahkan kami berencana membangun masjid kaca” ujar Herdi, amil Dompet Dhuafa.

”Siapa saja yang boleh mendapatkan layanan kesehatan gratsis itu?” tanyanya lagi.

Kami semua menyangka bahwa ibu tua itu mengharapkan bantuan untuk mendapatkan layanan kesehatan cuma-cuma itu. Ternyata tidak. Ia hanya ingin memastikan lagi bahwa dana zakat yang diserahkan oleh para muzakki ke Dompet Dhuafa itu memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

”Ok Nak Herdi, saya ingin membayarkan zakat saya, di mana lokasi Bank Mandiri terdekat di sini? Bila sudah transfer saya akan kabari Nak Herdi.”.

Herdi terhenyak kaget, dan semakin kaget lagi begitu ia ingin segera membayarkan zakat tanpa menunda waktu.

”Bank Mandiri tak jauh dari sini Ibu. Saya bisa antarkan.”

”Tak usah, nanti saja bila sudah saya tranfer saya akan kembali untuk dapatkan bukti setor zakatnya. Tolong berikan no rekening Dompet Dhuafa di Bank Mandiri.”

Herdi pun sibuk mencari no rekening Dompet Dhuafa di Bank Mandiri. Padahal nomor itu ada di brosur DD, tapi seolah tak ada. Jadi sulit untuk dicari. Sampai menjumpai no rekening nya. ”Ahh ini nomor nya Bu..!”

”Saya minta izin dahulu nanti saya kembali lagi bila sudah mentransfer”.

Belum lagi 5 menit handphone Herdi pun, berdering. ”Bisa di cek ke rekening Dompet Dhuafa, saya baru saja mentransfer Rp 150 juta,” suara dibalik telepon itu terdengar agak samar.

”Mohon maaf Ibu, berapa yang Ibu transfer nanti akan kami cek segera ke Bank Mandiri.”

”Rp 150 juta, Mas,” ujar ibu itu.

Masya Allah sebanyak itu, Alhamdulillah ya Allah, semoga Allah memberikan kemuliaan pada Ibu itu.

”Sebentar itu kami akan cek, Mbak Endang tolong di cek di Bank Mandiri, apakah sudah masuk transfer sebesar Rp 150 juta untuk Rumah Sehat Terpadu.”

”Sudah Mas,” sahut Endang dari balik ruangan.

”Alhamdulillah Ibu, sudah masuk ke rekening kami.”

Hmm Luar biasa, lihatlah katanya-katanya, ”Saya bayarkan zakat ini untuk suami saya yang telah wafat. Saya berharap zakat yang saya tunaikan ini, memudahkan jalan bagi ia menuju surga, seperti yang selama ini diharapkannya.”

”Amin Ibu, kami berdoa semoga almarhum mendapatkan tempat yang mulia dan tinggi atas zakat yang Ibu tunaikan hari ini. Semoga Allah memberikan pahala atas harta yang telah diberikan dan menjadikan suci serta keberkahan atas harta Ibu yang tersisa.”

”Amin”

Pembaca detikRamadan yang mulia, kisah ini membuat saya harus sering berdoa semoga saya bisa seikhlas mereka dalam sedekah dan belajar juga untuk menjauhkan diri dari prasangka. Sambil terus mendoakan para muzakki agar doa dan harapannya segera terwujud.

*) Yuli Pujihardi adalah Corporate Secretary & Resources Mobilization Director Dompet Dhuafa (nwk/nwk)

Pertama Kali, Capitol Hill akan Digunakan untuk Shalat Jumat

Halaman Capitol Hill, tempat Obama dilantik sebagai Presiden AS, akan digunakan untuk shalat Jumat. Boleh jadi akan mengubah sejarah AS
jumat-di-capitoll
Hidayatullah.com—Entah apakah ini merupakan pesan sikap bersahabatnya dengan dunia Islam, yang jelas Presiden Barack Obama kembali ingin memberi perubahan baru.

Setelah 2 September Obama menggelar acara berbuka puasa bersama para duta besar negara berpenduduk Muslim di Gedung Putih, Washington DC,Presiden AS ke-44 itu seolah memberi angin. Untuk pertama kalinya, Capitol Hill, yang selama ini dikenal sebagai gedung parlemen AS, akan dipakai sebagai tempat peribadatan kaum Muslim.

Sekitar 50 ribu warga Muslim diperkirakan akan hadir di acara shalat Jumat yang akan digelar pada 25 September mendatang, alias pekan pertama setelah Idul Fitri 1430 Hijriyah. Kegiatan itu, seperti dilansir Canada Press, dirancang jemaah Masjid Darul Islam di Elizabeth.

Ketua jemaah Darul Islam, Hassen Abdellah, berjanji bahwa kegiatan itu tidak akan melibatkan ceramah yang bersifat politik.

Izin telah diperoleh dari Kepolisian Capitol Hill sejak 28 Juli lalu. Jemaah akan diberi akses ke area barat gedung mulai pukul 04.00-19.00, walaupun shalat sendiri akan dimulai pukul 13.00.

“Kami juga warga Amerika. Kami perlu mengubah wajah Islam yang selama ini diidentikkan sebagai orang yang menganggap Amerika sebagai setan. Sebab, kami mencintai Amerika,” papar Abdellah.

Shalat berjamaah itu akan dilakukan di lokasi tempat semua presiden AS diinagurasi sejak 1981. Abdellah mengatakan, non-Muslim juga diperbolehkan untuk hadir di ritual itu.

Jemaah telah bekerja sejak Juli untuk mengorganisasi acara ini, baik melalui email, telepon, ataupun kunjungan ke setiap masjid dan asosiasi pelajar Muslim.

Untuk mempromosikan acara ini pun, penyelenggara telah membuat sebuah situs bernama www.islamoncapitolhill.com.

Situs itu memiliki logo dua tangan berjabat tangan, dengan latar belakang kata-kata dari pembukaan Konstitusi dan satu halaman teks berbahasa Arab.

Situs itu antara lain berisi informasi akan digelarnya ritual itu, serta kendaraan yang dapat digunakan menuju lokasi. Juga mengajak mencari sponsor dan bergabung dengan mereka untuk sejumlah fasilitas yang akan diadakan selama ritual berlangsung.

Darul Islam memperkirakan jumlah biaya yang akan dikeluarkan mencapai lebih dari US$200 ribu.

Di antara mereka yang berpartisipasi adalah komunitas Islam Jersey Tengah, di Brunswick Selatan, yang menyumbangkan dana sebesar US$10 ribu. Mereka akan mengirimkan jemaahnya dalam sebuah bus. Namun, jemaah belum memutuskan siapa yang akan menjadi imam dan khatib di acara tersebut. Kemungkinan bukan berasal dari figur besar dalam dunia Muslim AS.

“Acara ini tidak menampilkan ketokohan. Sehingga, kami tidak ingin ada tokoh yang terlibat. Tokoh utama dalam acara ini adalah Nabi Muhammad SAW,” papar Abdellah.

Setidaknya, bagi Obama yang sejak dilantik kerap menekankan keharmonisan dengan dunia Islam, tentu akan mengubah citra AS di mata dunia Islam. Dan melepas dari bayang-bayang pendahulunya, terutama George W Bush –yang kerap diasosiasikan tidak ramah kepada Islam—akan mengubah wajah dunia Islam terhadap Amerika.

Bahkan menurut pakar keamanan National Defense University, Douglas Streusand, dengan terus-menerus mengaitkan terorisme dengan Islam, hanya akan mengasingkan Muslim dan tidak menyelesaikan masalah terorisme.

Melalui sikap Obama yang ramah terhadap Muslim, maka diharapkan dapat mendorong terciptanya fase baru kerja sama AS-Muslim.

“Untuk itu, Obama harus seperti Uni Eropa yang melarang ungkapan yang menghubungkan Islam dengan terorisme. Juga ungkapan tak sensitif, seperti Islamofasime, jihadis, dan Islamis, yang dibuat oleh rezim sebelumnya,” paparnya. [inl/www.hidayatullah.com]

Harun dan Nasihat Ulama

Republika
Oleh Nurita

Pada suatu ketika, Khalifah Harun Alrasyid ditimpa kegelisahan. Sang khalifah pun minta diantar oleh Fadhal bin Rabi’ mendatangi rumah ulama, untuk meminta siraman rohani. Fadhal mengantar khalifah ke rumah Fudhail bin Ayyadh yang terkenal zahid. Belum lagi Harun mengutarakan maksud kedatangannya, Fudhail telah berkata,
”Sadarkah Anda, hai Amirul Mukminin, bagaimana orang memuji, mengangkat, dan meninggikan Anda? Tetapi bila kelak di hadapan Allah Anda ditanyai tentang sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan, hanya Anda yang menanggung jawabnya. Orang yang paling cinta kepada Anda di dunia ini adalah orang yang lebih dahulu lari dan tak bisa membela Anda.”

”Ingatlah wahai, Amirul Mukminin!” lanjut Fudhail, ”Suatu kejadian yang belum lama terjadi, ketika Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz diangkat jadi khalifah. Dia memanggil Salim bin Abdullah, Muhammad bin Ka’ab, dan Raja bin Haiwah. Ia berkata pada mereka, ‘Sekarang saya telah ditimpa musibah, yaitu memangku jabatan sebagai khalifah. Itulah sebabnya kalian saya panggil, saya hendak minta saran dan nasihat kalian’.”

”Ketika itu, wahai Amirul Mukminin,” sambung Fudhail, ”Salim bin Abdullah memberi saran pada Umar, ‘Jika Anda hendak lepas dari azab Allah, berpuasalah di dunia, dan berbukalah ketika Anda mati’.”
”Muhammad bin Ka’ab menasihatkan, ‘Jika Anda hendak lepas dari azab Allah Ta’ala, pandanglah kaum Muslimin yang lebih tua dari Anda sebagai ayah, pada yang sama umurnya dengan Anda sebagai saudara, dan pada yang lebih muda sebagai anak. Hormatilah ayahmu, sayangilah saudaramu, dan kasihilah anak-anakmu’.”

”Sedangkan Raja bin Haiwah memberi saran, ‘Jika Anda hendak lepas dari azab Allah Ta’ala, kasihilah kaum Muslimin sebagai Anda mengasihi dirimu sendiri. Jauhilah segala macam perkara yang dibenci rakyatmu. Bila semua itu telah Anda jalankan, matilah bila Anda suka. Saya sampaikan nasihat ini, sedangkan hati saya sendiri sangat takut mikirkan bagaimana besarnya perkara yang Anda hadapi’.”

Mendengar nasihat ini, Harun menangis tersedu-sedu, tubuhnya lemas lunglai, bahkan ia hampir pingsan. Melihat keadaan ini, Fadhal berkata, ”Hai Fudhail, kasihanilah Amirul Mukminin, jangan terlalu banyak memberi nasihat yang mendukakan hatinya.”

”Oh tidak, tidak Fadhal,” sela khalifah. ”Justru nasihat seperti ini yang dapat menghapus kegelisahan hatiku.”

Dunia kemudian menyaksikan Harun termasuk khalifah terbaik dalam sejarah Islam.

Hidup Penuh Arti

eramuslim – Selasa (23/7) dini hari waktu setempat, sebuah serangan udara menghancurkan beberapa bangunan dan menewaskan 12 orang termasuk anak-anak dan wanita, serta melukai 150 orang lainnya. Diantara yang syahid ialah Shalah Syahada, Komandan Izzudin Al Qassam, salah satu tokoh pendiri Hamas. Pria berusia 50 tahun itu menjemput syahid bersama istri dan ketiga anaknya dalam insiden membabi buta militer Israel. Syahidnya tokoh besar Hamas tersebut menimbulkan kemarahan para pejuang Hamas tidak terkecuali anak-anak dan kaum wanita. Hari ini, prosesi pemakaman Shalah Syahada dan sebelas syuhada Palestina lainnya dipadati tidak kurang dari 300 ribu pendukung Palestina. Dilaporkan, puluhan ribu pejuang antri di depan rumah sakit dimana para pejuang yang syahid tersebut disemayamkan untuk ‘berebut’ menggotong jenazah sang syahid.

6 Februari 1993, hujan air mata mengguyur tanah Indonesia. Dalam usia 84 tahun, seorang tokoh besar ummat Islam menghembuskan nafas terakhirnya. Pak Natsir telah pergi, begitu bunyi headline beberapa harian besar di ibukota. Sebagian kita mungkin masih belum bisa melupakan betapa membludaknya iring-iringan massa yang menghantarkan jenazah Mohammad Natsir (Allahuyarham Pak Natsir) ke tempat peristirahatannya.

Air mata ini pastilah kan mengalir tatkala mengingat kembali kisah detik-detik menjelang wafatnya Rasulullah Muhammad saw, manusia mulia nan agung yang dicintai segenap ummatnya. Betapa tidak, sampai detik terakhir hidupnya, ketika Izrail, Jibril dan seluruh malaikat berkumpul mengelilingi Rasulullah yang terkulai lemas di pembaringan, beliau masih khawatir akan keadaan ummatnya sepeninggalnya. Pancaran ketenangan pun menyemburat memancar dari wajahnya saat Jibril mengkhabarkan bahwa tidak ada ummat yang akan menginjakkan surga sebelum ummat Muhammad. Meski pada saat bersamaan derasnya sungai airmata mengalir membasahi pipi Fatimah Az Zahra.

“Orang besar adalah mereka yang hidupnya untuk (kepentingan) orang banyak, dan ketika mati, ia akan senantiasa dikenang juga sebagai orang besar. Orang kerdil adalah yang hidupnya untuk dirinya sendiri, maka ketika mati ia pun tetap sebagai orang kerdil”. Nasihat yang begitu bermakna yang terlontar dari mulut seorang pejuang muslim pendiri Gerakan Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan Al Banna. Setidaknya sang Imam pun membuktikan kata-katanya, puluhan tahun setelah kepergiannya pada tahun 1948 dalam usianya yang masih relatif muda, 42 tahun, oleh terjangan sebutir peluru, hingga kini ia masih tetap dikenang sebagai orang besar yang tidak bisa lepas dari wacana pergerakan dan perjuangan Islam di Mesir dan di seluruh penjuru dunia Islam.

Masih banyak nama-nama besar yang terukir bersamaan dengan gejolak perjuangan ini, DR. Abdullah Azzam, ahli bom pejuang Mujahidin Afghanistan pada masa perang melawan Uni Soviet. Syamil Basayev sang tokoh pejuang Chechnya, Ayatullah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran dan masih banyak nama-nama lainnya.

Mereka, menjadi orang besar dan senantiasa dikenang sepanjang hayat manusia di bumi Islam karena mereka telah mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk ummat, untuk Islam dan untuk Allah. Allah menjadikan mereka sebagai penyemangat perjuangan, pembunuh demotivasi, pembangkit ghirah, dan juga sebagai inspirasi bagi deretan panjang calon-calon mujahid di seluruh pelosok bumi. Meski tidak harus memanggul senjata, namun mereka telah memberi makna bagaimana hidup penuh arti, sehingga kematianpun akan sangat berkesan bagi siapapun yang ditinggalkan. Insya Allah, dengan segala kekuatan dan izin Allah, masih terdapat antrian panjang calon-calon pengukir sejarah perjuangan kaum muslim. Adakah diri ini dalam antrian panjang tersebut? Wallahu’alam bishshowaab (Abi Iqna).

Pembelahan Dada Nabi

Republika
Oleh : Abdul Muid

Matahari belum lagi meninggi saat seorang bocah Bani Sa`ad berlari terengah-engah melaporkan kejadian aneh bahwa dua laki-laki berpakaian putih telah menangkap suadara angkat mereka, Muhammad. Mereka membedah perut serta dada dan membalik-balikkannya. Usia Muhammad saat itu belum tiga tahun. Halimah, pengasuh Muhammad, pun bergegas menengok kejadian sebenarnya. Didapatinya Muhammad sedang terbaring lemah.

”Aku didatangi dua laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan, lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka cari,” jelas Muhammad kecil lirih dengan wajah pucat pasi.

Para ahli, baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim, berbeda pendapat tentang kejadian ini. Di antara mereka ada yang menganggap peristiwa ini sangat lemah riwayatnya ditilik dari sudut sanad. Di samping itu sangat tidak masuk akal dan untuk apa Allah membelah perut atau dada Muhammad, padahal ia telah dipersiapkan sejak dulu untuk menjadi Rasul? Alquran pun tidak menyinggung dengan jelas peristiwa itu, kecuali tiga ayat pertama Surah Al-Insyirah: ”Bukankah telah Kami lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban darimu? Yang memberati punggungmu?”

Ayat ini, meski diduga punya kaitan dengan peristiwa itu, tetap tidak menegaskan kejadian sebenarnya.

Terlepas dari pro dan kontra itu, Karen Armstrong dalam bukunya, Muhammad Sang Nabi (2001), menyatakan bahwa kisah ini menyimbolkan kemurnian yang diperlukan untuk menerima suatu pengalaman ketuhanan tanpa menodai pesan sucinya. Kisah ini sering disejajarkan oleh para sejarawan dengan peristiwa Isra dan Mi’raj.

Di sisi lain, kita melihat bahwa di hadapan Muhammad kecil terbentang hamparan tanggung jawab tak bertepi terhadap umat saat ia menjadi Nabi dan Rasul –tanggung jawab yang tidak akan sanggup dipikul oleh sembarang orang. Pembawa risalah ini haruslah orang yang betul-betul terjaga kesuciannya dan kuat jiwanya. Untuk itu, hatinya mestilah bersih dari segala kecenderungan-kecenderungan rendah yang dapat berakibat misi yang diembannya berantakan.

Saat ini kita sulit mencari seseorang yang memiliki jiwa bersih untuk memimpin negeri yang tengah porak-poranda ini. Penyelewengan kekuasaan dan jabatan masih menjadi benda murah dan bisa ditemui di manapun. Himah dari kisah dibelahnya dada Muhammad ini mungkin bisa menjadi cermin bahwa sejak usia dini, calon-calon pemimpin masa depan mesti dibekali kesucian jiwa dan kekuatan mental kalau mereka tak mau gagal.

Meremehkan Hal Kecil

Republika
Oleh : Oleh Sabrur R Soenardi

Ketika hendak menjenguk orang sakit, Khalifah Umar bin Khatab menyewa seekor kuda tunggangan. Di tengah perjalanan, ia beristirahat sejenak dan menggantungkan syal ikat kepalanya pada ranting sebuah pohon. Karena terus berzikir, Umar lupa mengambil syal itu saat beranjak pergi. Ketika perjalanan sudah agak jauh, seseorang memberi isyarat bahwa Umar meninggalkan syalnya pada sebuah pohon.

Umar pun turun dan meninggalkan kudanya bersama orang itu. “Jaga kuda itu. Aku akan kembali ke pohon itu mengambil syal.”

Laki-laki itu tentu saja heran. Maka, sekembali Umar dari mengambil syalnya, ia langsung bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa Anda pergi ke pohon itu tidak naik kuda ini saja atau menyuruhku mengambil syal itu untukmu?”

“Kamu yang pergi?” jawab Umar balik bertanya. “Aku tidak mau. Syal itu bukan punyamu, dan kamu juga bukan orang upahanku yang bisa kumanfaatkan seenakku. Usulmu agar aku menunggangi kuda ini untuk mengambil syal lalu kembali lagi, aku tidak sepakat. Waktu aku menyewa kuda ini, izinnya hanya untuk pergi dari rumah ke tempat yang kutuju. Lagi pula, aku dan pemilik kuda ini tidak membuat kesepakatan yang membolehkan kamu pergi dengan kuda ini.”

Laki-laki itu tambah heran. “Wahai Amirul Mukminin, itu kan sangat remeh bagi kuda ini dan bagi pemiliknya? Berjalan sedekat itu bagi seekor kuda bukanlah sesuatu yang berat, dan jika diukur dengan uang sewaaan, bagi pemilik kuda, juga tidak bernilai banyak.”

Alfaruq sangat berang mendengar ucapan orang ini. “Hai orang yang sesat dan disesatkan, tidakkah kamu mendengar firman Allah, ‘Dan kamu menganggapnya yang ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar’.” (QS Annur: 150).

Alih-alih berperilaku seperti Umar yang, sebagai kepala negara sekalipun, tidak mau meremehkan hal-hal kecil, orang zaman sekarang, khususnya mereka yang duduk di kursi kekuasan, malah berperilaku menyimpang, jauh dari yang dicontohkan. Hal-hal yang besar justru mereka anggap remeh. Pemberantasan KKN, law enforcement, pengentasan kemiskinan, semuanya adalah tugas-tugas besar menyangkut masa depan bangsa.

Namun, mereka tidak serius menanganinya. Para penyelenggara negara kita justru menganggap semua hal itu sebagai tugas-tugas remeh. Karena itu, hingga kini tugas-tugas itu tidak tergarap dengan tuntas, bahkan cenderung amburadul. Betapa berat pertanggungjawaban mereka di akhirat kelak. Na’udzubillah. 

Paku dan Lidah

Republika
Oleh : Siti Nuryati

Ada seorang anak laki-laki pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan 72 paku. Lalu secara bertahap jumlah itu mulai berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan marah daripada memakukan paku ke pagar. Akhirnya tibalah waktu dimana anak tersebut merasa bahwa ia sama sekali telah mampu mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya.

Anak itu kemudian memberitahukan perubahan dirinya kepada sang ayah, yang kemudian mengusulkan agar ia mencabut satu per satu paku-paku tersebut setiap hari pada saat si anak telah hilang sifat pemarahnya.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki tersebut akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Menyaksikan semua itu, sang ayah lalu menuntun anaknya ke pagar sambil berkata, ”Engkau telah berhasil dengan baik anakku. Namun, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa kembali mulus seperti sebelumnya, ketika engkau mengatakan sesuatu dalam kemarahan.”

Si ayah melanjutkan, ”Kata-katamu akan meninggalkan bekas di hati orang yang kaumarahi, seperti lubang bekas paku yang ada di pagar ini. Engkau dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Meski telah beberapa kali engkau meminta maaf, bisa jadi luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik akibat tusukan pisau, meski luka akibat kata-kata memang tak tampak.”

Rasulullah saw pernah bertutur, ”Barang siapa yang tidak bisa berkata baik, maka diamlah.” Di sinilah kita dibimbing untuk senantiasa mengedepankan akhlak dalam setiap pembicaraan agar apa pun yang kita katakan tidak melukai orang lain.

Dalam berbicara kita dituntut dua hal: benar dan baik. Benar artinya bahwa substansi pembicaraan kita selalu dalam koridor syari’at. Sedangkan baik di sini berarti cara bicara kita diupayakan tidak menimbulkan luka hati lawan bicara kita.

Kisah Dua Muadz

Oleh : Nur Hasan Atho

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, dikisahkan bahwasannya Abdurrahman bin Auf pernah berkata bahwa pada hari Perang Badar, dia berdiri di tengah-tengah barisan. Saat itu dia melihat ke kiri dan kanan, dan tiba-tiba saja ada dua anak kecil dari kaum Anshar di sampingnya. Salah seorang di antara mereka kemudian berkata sambil mengerlingkan mata pada Abdurrahman, “Wahai pamanku, apakah engkau kenal dengan Abu Jahal?”

Abdurrahman menjawab, “Benar, dan apa perlumu dengannya?”
Anak kecil tersebut berkata, “Aku mendengar berita bahwa orang itu telah mencela Rasulullah saw. Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam tangan-Nya, sekiranya aku melihatnya, niscaya diriku dan dirinya tidak akan pernah bercerai terkecuali salah seorang di antara kami akan mati.” Abdurrahman terkejut mendengar perkataan tersebut.

Kemudian yang lainnya juga berkata hal yang sama kepadanya sambil mengerlingkan matanya. Tidak lama kemudian ia melihat Abu Jahal berkeliling di antara kelompoknya. Abdurrahman berkata, “Apakah kalian tidak melihat? Itulah orang yang kalian pertanyakan kepadaku.” Mendengar hal itu, lantas keduanya segera menyerang dan menghunjamnya dengan pedang, hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.

Kemudian keduanya menghadap kepada Rasulullah saw dan memberitahukan peristiwa yang mereka alami tadi. Nabi bertanya, “Siapa di antara kalian berdua yang telah membunuhnya (Abu Jahal)?”
Masing-masing mereka berkata, “Kami yang telah membunuhnya.”
Nabi tambah bertanya kepada keduanya, “Apakah kalian telah membersihkan pedang kalian?” Keduanya menjawab belum. Kemudian Nabi saw melihat sebuah pedang yang masih berlumuran darah di tangan mereka dan bersabda, “Kalian berdua telah membunuhnya.”

Setelah itu Rasulullah memberikan harta rampasan kepada dua Muadz, masing Mu’adz bin Amr bin Jamuh dan Mu’adz Ibn Afra’ ra
Sungguh, mereka adalah dua Muadz ‘kecil’ yang pemberani. Tekad mereka untuk membela Rasulullah sungguh besar. Memang demikianlah mereka dididik. Ketika itu, anak-anak Islam dididik dan dipersiapkan untuk berjuang di jalan Allah dan membela Rasul-Nya. Semoga, kisah kedua Mu’adz itu menjadi inspirasi yang terus menggelorakan semangat juang kaum muda Muslim di negeri ini dalam membela agama mereka.

Syukur yang Sesungguhnya

Republika
Oleh A Fauziyah

“Ya Allah Jadikanlah aku ini termasuk golongan hamba-Mu yang sedikit.”

Yang dimaksud dengan golongan sedikit adalah hamba-hamba yang bersyukur (Saba’: 13). Bukankah sudah banyak di antara kita telah mengucapkan kata “alhamdulillah” dan bukankah sudah banyak di antara kita yang telah mengadakan acara “tasyakuran” setelah mendapatkan sesuatu yang beharga seperti naik pangkat, lulus ujian, kelahiran anak, dan lain-lain? Hal demikian memang sudah memasuki pintu syukur, akan tetapi belum sepenuhnya memasuki kawasan syukur.

Syukur berarti rasa terima kasih atas nikmat yang telah diberikan, sembari menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah SWT. Syukur tersusun dari ilmu, hal, dan amal perbuatan. Ilmu berarti mengetahui nikmat yang diberikan dan pemberi nikmat. Hal berarti gembira atas nikmat yang telah diberikan.

Sedangkan amal perbuatan adalah melaksanakan apa yang menjadi tujuan pemberi nikmat.

Banyak di antara kita bersyukur hanya dalam ilmu dan hal saja, belum memasuki penggunaan nikmat itu untuk mencari keridhaan-Nya. Seseorang bertanya kepada Abu Hazim, “Bagaimanakah syukur mata?” Ia menjawab, “Jika mendengar yang baik diterima, dan sebaliknya.” “Bagaimanakah syukur kedua tangan?” Ia menjawab, “Jika orang meninggal baik dan perlu ditiru, maka langkahkanlah kaki Anda.”

Penggunaan nikmat untuk meningkatkan kualitas ibadah masih sedikit. Orang yang bersyukur hanya pada bibir saja bagaikan mempunyai sehelai selendang panjang dan hanya memegang ujungnya tanpa mengenakannya.

Maqam syukur lebih tinggi daripada maqam takwa karena takwa merupakan ambang kedatangan syukur. “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali Imran: 123). Dan syukur yang diikuti dengan keimanan akan terbebas dari azab Allah. “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?” (Annisaa`: 147).

Sulit melaksanakan syukur yang sesungguhnya sehingga Nabi memberikan doa kepada Muaz bin Jabal untuk selalu dibawa setiap setelah shalat “Allahumma ainni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.” (Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang selalu ingat akan Engkau, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah kepada-Mu.”

Semoga kita termasuk golongan orang-orang bersyukur. Amin.